"Allamungang Batu Di Luyo" merupakan situs sejarah berupa perjanjian yang masih dapat ditemukan hingga saat ini. Menurut sejarah, didirikan oleh federasi 14 kerajaan lokal di daerah Mandar sekitar abad XVII, yang terdiri dari dua kelompok kerajaan besar, yaitu kerajaan di "Pitu Ulunna Salu" Tujuh Hulu Sungai dan "Pitu Baqbana Binanga" Tujuh Sungai Muara. Empat belas kerajaan ini (Pitu Baqbana Binanga): Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Mamuju, Tappalang, dan Binuang diwakili oleh "Tomepayung" raja kedua Kerajaan Balanipa (putra I Manyambungi "Todilaling"). (Pitu Ulunna Salu): Tabulahan, Rantebulahan, Mambi, Aralle, Bambang, Matangnga, Tabang dan diwakili oleh "Londong Dehata"

Berikut ini adalah isi perjanjian "Allamungan Batu Di Luyo" :

Tallemi mannurunna pineneang

(Jelaslah garis keturunan)

Upasambulo-bulo ana appona di Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga
(Aku satukan anak cucu di Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga)

Nasa’bi Dewata diaya, Dewata diong, Dewata di kanang, Dewata di kaeri
(Disaksikan penguasa di langit, penguasa di bumi, penguasa di utara, penguasa di selatan)

Dewata di olo, Dewata di woe, menjarimi passemandarang
(Penguasa di timur, penguasa di barat, jadilah Mandar bersatu)

Tandisappa tandiatonang, maallonang mesa
(Tak berjarak tak berbatas, sebantal bersama)

Mallate samballa, siluangang sambu-sambu, sirondong langi-langi
(Dalam selembar tikar, saling memakaikan kain, menggelar tudung bersama)

Tassipande pio’dong, tassiparundu pelango
(Bersaji nasi lunak, tanpa minuman pahit)

Tassipelei di panra, tassipelei di apiangang
(Susah senang dipikul bersama)

Sipatuppu di ada, sipalete di rapang
(Menjunjung tinggi adat, memegang teguh petitih)

Ara tuo di Pitu Ulunna Salu, ara mate di muane arana Pitu Babana Binanga
(Prinsip hidup (bersama) di Pitu Ulunna Salu, prinsip mati mulia di Pitu Babana Binanga)

Sapu tangang di Pitu Ulunna Salu simbolong di Pitu Babana Binanga
(Pitu Ulunna Salu mengikat kepala, Pitu Babana Binanga menyanggul rambut (nya))

Pitu Ulunna Salu memmata di sawa, Pitu Baba Binanga memmata di mangiwang
(Bagai piton menjaga sarangnya itulah Pitu Ulunna Salu, bagai hiu yang mengintai lautnya itulah Pitu Babana Binanga)

Sisarapai mata malotong anna mata mapute
(Bagai biji mata, hitam dan putihnya yang tak akan berpisah)

Anna sisara Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga
(Seperti itulah Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga)

Mua diang tomangipi mangirang, mambbattangang tomu-tommuane
(Jika seorang (perempuan) telah bermimpi mengandung bayi lelaki)

Namappasisara Pitu Ulunna Salu Pitu Babana Binanga
(Kelak akan menggoyahkan Pitu Ulunna Salu, Pitu Babana Binanga)

Sirumungngi’i anna musessei, pasungi anana
(Berkumpullah, belah perutnya, keluarkan janinnya)

Anna muanusangi sau di uwai tammembali.
(Hanyutkan ke derasnya air yang tak akan kembali)

Makanan khas Sulawesi Selatan yang enak dan wajib dicoba

  • Coto Makassar. Makanan khas Sulawesi Selatan pertama tentu tidak lain adalah coto Makassar. ...
  • 2. Jalangkote. ...
  • 3. Sop Konro. ...
  • 4. Nasu Palekko. ...
  • Pisang Epe. ...
  • 6. Kapurung. ...


  • 7. Buras. ...
  • Mie Titi.








           


Perahu Sandeq juga menjadi ikon kehebatan bahari masyarakat Mandar, kehebatan para pelaut ulung Mandar dibuktikan dengan pelayaran ini menggunakan perahu giok ini. Dalam kehidupan sehari-hari, perahu sandeq digunakan untuk mencari nafkah di laut terdalam. Tercatat dalam sejarah, kapal Sandeq terbukti mampu berlayar ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar, Australia, Amerika.

      Sandeq, perahu tradisional Mandar, merupakan peninggalan leluhur sebagai sarana nelayan mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian, sebagai alat transportasi para pedagang di masa lalu melintasi lautan untuk menjual hasil pertanian.

  • Perahu Sandeq, memiliki ciri khas yang membedakannya dari kebanyakan perahu saudari lainnya.

          Sandeq yang merupakan kebanggaan masyarakat Mandar selain memiliki bentuk yang indah dan indah dengan panjang kurang lebih 9 - 16 meter dengan lebar 0,5 - 1 meter dipasang cadik bambu di kiri kanannya sebagai penyeimbang. , mengandalkan angin yang ditangkap oleh layar segitiga. , mampu dipacu hingga kecepatan 15-20 knot atau 30-40 km perjam .. Sehingga perahu layar tercantik dan tercepat juga mampu menerjang ombak besar sekalipun.

         Sandeq juga mampu menahan angin dan ombak saat mengejar ikan tuna. Saat musim bertelur ikan terbang, nelayan menggunakan sandeq untuk memasang perangkap telur dari daun kelapa dan rumput laut, atau berburu rempah-rempah ke Ternate dan Tidore untuk dibawa ke kota Makassar.

Dulu, ada lomba saat libur karena kendala cuaca, nelayan Mandar biasa mengisi waktunya dengan mengadakan lomba sandeq. Persaingan hanya tentang kemampuan manuver. Setiap sandeq harus melingkari area yang dibatasi oleh tiga titik. Kompetisi ini membutuhkan pembacaan angin yang cermat dan penentuan teknik manuver. Di sini para nelayan diuji ketrampilannya sebagai passandeq.


Kini hanya difungsikan untuk lomba perahu yang akhir-akhir ini populer dengan “Lomba Sandeq” sebagai agenda tahunan menjelang HUT Proklamasi.


Beberapa event perlombaan kerap digelar untuk membuktikan ketahanan perahu ini (Horst H Liebner, peneliti sandeq Jerman, menilai tidak ada perahu tradisional yang sekuat dan secepat Sandeq yang merupakan perahu tradisional tercepat di Austronesia)

Perlombaan sandeq masih bisa disaksikan hingga saat ini pada Sandeq Race yang diadakan pada pertengahan Agustus ini dengan menempuh rute Mamuju di Sulawesi Barat hingga Makassar di Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 300 mil laut.

Ribuan orang tumpah ruah ke bibir pantai untuk menyaksikan sandeq dari desanya berkompetisi dalam pesta tahunan nelayan Mandar yang kini sudah menjadi agenda tahunan. Konon kompetisi ini dimulai pada 1960-an.

       

  Arung Palakka (lahir di Lamatta, Mario-ri Wawo, Soppeng, 15 September 1634 - meninggal di Bontoala, 6 April 1696 pada umur 61 tahun [1]) adalah Sultan Bone yang menjabat dari tahun 1672-1696. Saat masih menjabat sebagai pangeran, ia memimpin kerajaannya merdeka dari Kesultanan Gowa pada tahun 1666. Ia bekerja sama dengan Belanda saat merebut Makassar. Palakka juga menjadikan suku Bugis sebagai kekuatan maritim utama yang bekerjasama dengan Belanda dan mendominasi wilayah tersebut selama hampir satu abad. [1]

Arung Palakka bergelar La Tan-ri Tatta To 'Urong To-ri Sompi Patta Malampei Gammana Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sri Sultan Sa'ad ud-din, mengacu pada ejaan huruf lontara. Pengucapan yang tepat adalah La Tenritatta To Unru To-ri SompaE Petta MalampeE Gemme'na Daeng Serang To 'Appatunru Paduka Sultan Sa'adduddin.

        Arung Palakka pertama kali menikah dengan Arung Kaju, namun akhirnya bercerai. Kemudian menikah dengan Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa pada tanggal 16 Maret 1668, sebelumnya merupakan istri dari Karaeng Bontomaronu dan Karaeng Karunrung Abdul Hamid. Pernikahan ini tidak berlangsung lama dan keduanya bercerai pada 26 Januari 1671. Untuk ketiga kalinya, ia menikah dengan We Tan-ri Pau Adda Sange Datu-ri Watu, Datu Soppeng, di Soppeng pada 20 Juli 1673. Istri ketiganya adalah putri La Tan-ri Bali Beowe II, Datu Soppeng, dan sebelumnya adalah istri La Suni, Adatuwang Sidenreng. Pernikahan keempatnya dilangsungkan pada 14 September 1684 dengan Daeng Marannu, Karaeng Laikang, putri Pekampi Daeng Mangempa Karaeng Bontomaronu, Gowa, dan sebelumnya istri Karaeng Bontomanompo Muhammad.


Arung Palakka adalah pahlawan yang ditakuti di seluruh Batavia. Pria tampan berambut gondrong dan bermata bersinar ini punya nama yang mengguncang semua pahlawan dan pejuang di Batavia. Seolah-olah diperintahkan untuk selalu bersamanya. Pria Bugis Bone dengan badik yang mampu mengurai isi perutnya ini telah merambah Batavia sejak tahun 1660-an, ketika ia dan para pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman & kekuasaan Sultan Hasanuddin.


Batavia pada abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalkan demi mencapai tujuan. Pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan merupakan udara yang menjadi nafas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan merupakan satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan kepada bangsa yang harus ditegur dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil pasang surut kolonialisme Eropa. Kekerasan tersebut seolah menegaskan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan seperti serigala yang memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi orang yang perkasa bagi sesamanya.


Nama Arung Palakka ditemukan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang memuat data sejarah tentang Batavia di masa lampau dengan sejarah kelam. Berbagai referensi ini menyimpan sedikit cerita tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri dengan gagah di tengah Kota Watampone


Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang membara untuk menaklukkan. Ia terasing dari bangsanya, suku Bugis Bone yang kebebasannya terkekang. Namun, ia sebebas burung merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Dia adalah penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang di seberang kota seukuran Batavia, kekuatannya semakin bertambah ketika ia menjalin persekutuan yang menakutkan dengan dua tokoh terisolir lainnya, yaitu seorang Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun aliansi rahasia dan memegang kendali atas VOC selama masa mereka, termasuk memonopoli perdagangan emas dan pertanian.


Ketiga karakter terasing ini menjadi horor bagi para pahlawan saat itu. Speelman adalah pejabat tinggi VOC yang jauh dari asosiasi VOC. Ia dikeluarkan dari relasi sosial karena terbukti terlibat dalam perdagangan ilegal ketika masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel pada tahun 1665. Arung Palakka adalah seorang pangeran Bone yang hidup dalam penjajahan dan ditawan oleh Kerajaan Gowa. Dia memberontak dan bersama para pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dan memberinya sebuah daerah di pinggiran Kali Angke, sehingga para prajurit Bone ini dipanggil To Angke atau orang Angke. Sedangkan Kapten Jonker adalah komandan dari Pulau Manipa, Ambon. Dia memiliki banyak pengikut setia, tetapi tidak pernah menguasai daerah di mana orang-orang mengenalinya sebagai penguasa. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. VOC memberinya rumah dan tanah yang luas di daerah Marunda dekat Cilincing.


Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapten Jonker semuanya berawal dari hal yang sama, yaitu isolasi. Ketiganya memiliki sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legendaris. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam perlawanan terhebat dalam sejarah perang yang pernah dialami oleh VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu setelah Perjanjian Bongaya yang menjadi momok bagi VOC dan pembatas (barikade) untuk menguasai kawasan timur Indonesia, khususnya jalur rempah-rempah Maluku, pada 18 November 1667.


Arung Palakka sangat populer karena berhasil menaklukkan Sumatera dan membakar perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi yang berseberangan, di satu sisi ia ingin membebaskan Bone, namun di sisi lain ia menaklukkan wilayah lain di nusantara. Ceritanya, pada tahun 1662 terjadi kesepakatan antara VOC dan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian disebut Perjanjian Painan itu ditujukan untuk monopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayangnya, orang Minang mengamuk pada tahun 1666 dan membunuh perwakilan VOC di Padang yang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke Minangkabau dalam sebuah ekspedisi yang disebut Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bone, ia berhasil menekan dan memadamkan perlawanan orang Minangkabau untuk menaklukkan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas ke Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat menjadi Raja Ulakan.


Sementara itu, Kapten Jonker memiliki reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan kepada seorang karyawan keturunan VOC Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukkan nusantara di Barat, Tengah dan Timur. Mereka memiliki peran besar dalam membawa VOC ke puncaknya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tak heran jika ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuasaan VOC saat itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya karena memiliki pasukan yang besar. Dari ketiganya, dia hanya mengandalkan tentara bayaran multinasional dengan loyalitas rendah. Akibat kekuasaan dan kendali besar monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.


Sayangnya, kisah menakjubkan ketiga pahlawan Batavia harus berakhir dalam waktu singkat. Musuh Speelman, perwira Prancis Isaac decornay de Saint Martin, segera bergerak. Panglima perang yang memenangkan perang di Cochin, Kolombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat, berhasil mengungkap semua korupsi dan kenakalan Speelman hingga akhirnya Speelman dicopot dari jabatan Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapten Jonker. Wilayah pria Ambon di Pejonkeran Marunda ini dikepung, lalu diserang. Kapten Jonker tewas dalam penggerebekan itu, kepalanya dipenggal dan diekspos. Para pengikutnya terbunuh dan keluarganya diasingkan ke Kolombo dan Afrika.


Arumpone Bone

Menggantikan ibunya sebagai Datu Mario-ri Wawo ke-15. Mendapat gelar Arung Palakka sebagai hadiah untuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan di Makassar. Diakui oleh Belanda sebagai Arung Pattiru, Palette dan Palakka di Bone dan Datu Mario-ri Wawo di Soppeng, Bantaeng dan Bontoala, 1670. [2]


Menyatakan pelepasan paksa takhta paman kandungnya pada tahun 1672. Dan dimahkotai sebagai Sultan Bone dengan gelar Paduka Sri Sultan Sa'ad ud-din, 3 November 1672. [2]


Andaya mengalihkan perhatiannya pada Arung Palakka sebagai representasi dari tema dasar dan kepercayaan yang selama ini mendominasi kehidupan masyarakat Bugis atau Makassar. Dari situ ia berusaha mencari akar karena Arung Palakka bersedia bersekutu dengan VOC saat melawan saudaranya sendiri di Kerajaan Gowa yang pada masa kejayaannya sebagai salah satu kerajaan terkuat dan terbesar di Nusantara abad ke-17.


Dengan latar belakang tersebut, Andaya mengawali sejarah karakternya dengan membahas sejumlah ciri budaya tertentu masyarakat Sulawesi Selatan yang dikaitkan dengan situasi sejarah abad ke-17, khususnya perkembangan Islam dan perdagangan internasional yang berujung pada ketegangan. antara Gowa, Bone, dan VOC yang hadir di sana sejak 1601. Ketegangan yang ia hadirkan secara mendetail menjadi latar lahir dan mengisi benak masa kecil dan remaja Arung Palakka.


Arung Palakka lahir sekitar tahun 1634 di Desa Lamatta, daerah Mario Wawo Soppeng, sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Saat berusia delapan tahun, Bone diperangi oleh Kerajaan Gowa dan berhasil menaklukkannya. Sejak berusia 11 tahun Arung Palakka dan keluarganya disandera di Istana Gowa. Mereka beruntung menjadi abdi Karaeng Pattinggaloang, seorang tokoh penting dan jenius di Kerajaan Gowa. Di bawah asuhannya, Arung Palakka tumbuh menjadi pangeran yang mengesankan baik dalam otak maupun olahraga.


Meski aktif berkiprah di Istana Gowa dan berteman dengan pemuda Makassar, siri 'dan pacce selalu mengingatkannya sebagai anak orang Bugis yang diasingkan dan rakyatnya menderita. Awal tahun 1660 ia merasa penderitaan semakin parah karena harus menyaksikan 10.000 tua-muda diseret dari Bone ke Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin melalui Karaeng Karunrung dan Bupati Bone, Tobala. Mereka dijadikan buruh paksa untuk menggali kanal-kanal di sepanjang garis pantai Makassar agar ada pemisahan antara Kerajaan Goa dan Benteng Panakkukang yang dikuasai VOC.


Karena banyak yang sakit dan mengungsi, semua bangsawan Bone dan Soppeng diperintahkan meninggalkan istana, untuk bekerja bersama rakyatnya. Hal ini melipatgandakan pelecehan siri 'yang diderita masyarakat Bone dan Soppeng karena tuannya dipaksa melakukan kerja kasar yang tidak layak. Pelecehan siri 'merupakan penderitaan kolektif bagi masyarakat Bone dan Soppeng serta mengental perpecahan di antara mereka. Resistensi dirancang.


Arung Palakka adalah salah satu perancangnya, namun perlawanan itu dipatahkan oleh kekuatan besar Gowa. Dia ditekan. Pada akhir tahun 1660 ia meninggalkan Sulawesi Selatan bersama para pengikutnya menuju Batavia dengan bantuan VOC, namun di dalam hatinya terpatri sumpah bahwa ia tidak akan pernah berhenti mencari jalan untuk kembali, menghitung, dan membebaskan negeri Bone. .


Setelah menunggu lima tahun, keinginannya menjadi kenyataan. VOC yang kagum dengan kekuatan tempur pengikut Arung Palakka yang disebut Toangke ("orang Angke", diambil dari Sungai Angke yang mengalir melalui desa Bugis di Batavia) sambil membantu memadamkan pemberontak Minangkabau, mengajaknya berperang melawan Gowa yang dianggap mengganggu kepentingan ekonomi VOC.


Andaya menyediakan ruang yang cukup untuk menceritakan Perang Makassar. Salah satu yang menarik adalah pemunculan psikologi Arung Palakka dan Cornelis Speelman yang merupakan aktor utama yang dipilih oleh VOC untuk memimpin ekspedisi ke Kerajaan Gowa. Keduanya menderita karena apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan sehingga rela mengorbankan apa saja untuk memulihkan nama mereka. Speelman percaya hanya kemenangan yang dapat membersihkan namanya dari pemecatan tidak hormat karena perdagangan gelapnya sebagai gubernur VOC di Coromandel pada tahun 1665. Adapun Arung Palakka, kemenangan akan membebaskannya dari beban berat bahwa siri'inya mati.


Hanya dengan memulihkan siri 'dan rakyatnya dia bisa menunjukkan wajah di Sulawesi Selatan. Ia percaya bahwa lebih baik mati untuk membela siri '(mate ri siri'na) daripada hidup tanpa siri' (mate siri '). Mati untuk memulihkan siri 'berarti "mati dengan mandi gula dan santan" (mate ri gollai, mat ri santannge). Situasi psikologis inilah yang mendorong keduanya untuk "menafsirkan ulang" tatanan VOC.


Hal menarik lainnya adalah studi Anda tentang dampak perang terhadap masyarakat Makassar. Melalui cerita rakyat Bugis, Sinrili'na Kappala 'Tallumbatua, ia menunjukkan Arung Palakka dan Perang Makassar yang dimaknai oleh masyarakat pedesaan Makassar dan Bugis sebagai kemenangan rakyat dan keunggulan nilai-nilai mereka berdasarkan kebiasaan dan praktek (yang ada) yang sudah sangat tua dalam komunitas, yaitu siri ', pacce, dan sare.


Jawaban atas masalah ini, menurut Anda, kurang tepat untuk dicari dalam kerangka persaingan ekonomi di bagian barat laut Nusantara, antara Kerajaan Gowa dan VOC yang berpuncak pada Perang Makassar tahun 1666-1669, seperti cendekiawan lokal dan asing percaya. Alasan utama Arung Palakka bukanlah politik-ekonomi, melainkan pangadereng yang meliputi siri '' (harga diri atau kehormatan dan rasa malu), pacce (rasa sakit dan duka atas penderitaan sesama), dan sare (keyakinan bahwa seseorang dapat meningkatkan atau mempermalukan keberuntungan seseorang dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).


Tanpa memahami ketiga ciri budaya yang sangat berperan penting dalam sejarah Sulawesi Selatan saat itu, akan mendung selamanya menilai Arung Palakka. Bagaimanapun, Andaya percaya diktum sejarawan JC van Leur bahwa masa lalu tidak ditulis untuk dinilai dari nilai masa kini, dan karena itu siri ', pacce, dan sare lebih baik dan hanya bahan yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi peristiwa-peristiwa penting itu. abad. daripada standar saat ini. Maka dari itu ia masuk dan memberikan kontribusi penting terhadap polemik yang masih berkembang di masyarakat Sulawesi Selatan tentang Arung Palakka sebagai sosok yang benar, pahlawan sejati, bukan pengkhianat atau penindas.


Hal ini sangat berbeda dengan tulisan sejarawan Barat maupun sejarawan Indonesia yang hanya mengandalkan sumber-sumber Kerajaan Makassar dan / atau dokumen VOC. Mereka cenderung menggambarkan kepahitan dan pesimisme di kalangan raja dan bangsawan Makassar sebagai cerminan dari perasaan seluruh masyarakat Makassar. Jadi, masyarakat Sulawesi Selatan harus bisa merendahkan emosi dan lebih rasional dalam membahas implikasi Perang Makassar.


Setelah Perang Makassar, Arung Palakka memahami betul bahwa VOC telah menjadi kekuatan "dalam", tetapi bukan "milik", Sulawesi Selatan. Perbedaan ini diakui dan dimanipulasi untuk menjadikannya sebagai salah satu penguasa tertinggi paling sukses dalam sejarah Sulawesi Selatan. Ia merintis jalan menuju ke sana tidak hanya dengan kesadaran bahwa ia tidak akan berbalik melawan VOC, yang telah memulihkan kehidupannya dan rakyatnya, tetapi juga dengan selalu membuktikan kesetiaannya. Ia rela meninggalkan negaranya pada Mei 1678 untuk berjuang membantu VOC menyelesaikan masalah pengungsi Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Galesong yang membantu perlawanan Trunojoyo di Jawa.


Terakhir, Andaya menyimpulkan bahwa Arung Palakka adalah sosok yang dianugerahi visi dan kepiawaian politik yang kuat sehingga mampu menggunakan pengaruhnya secara efektif terhadap negara setempat, bahkan membuat pemerintah pusat VOC di Batavia tergantung dan rela mengabaikan suara. wakilnya di Fort Rotterdam untuk memborgol Arung Palakka untuk memaksa mereka semua. berbagi impiannya tentang Sulawesi Selatan yang bersatu.


Impian Arung Palakka yang dalam 30 tahun pemerintahannya berhasil terwujud, namun di saat yang sama membuat banyak pangeran dan pengikutnya tidak setuju karena politik kotornya. Hal ini mengakibatkan pangeran dan pengikutnya berlarian dan mencari rumah di seberang tanah, sehingga mewarnai sejarah daerah tujuan tersebut. Inilah yang menurut Anda merupakan warisan Arung Palakka, tidak hanya untuk Sulawesi Selatan tetapi juga untuk nusantara, selain dari kepribadiannya sebagai pemimpin yang sadar, memahami, dan berpegang pada tradisi yang tertuang dalam amanat leluhur tertulis dan tidak tertulis.

       




 Barangkali tak ada orang selegendaris Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Laki-laki kelahiran Luwu ini bergerilya melawan pemerintahan Sukarno selama belasan tahun. Hebatnya, tak satu pun panglima tangguh yang ditempatkan di Sulawesi Selatan mampu menghentikan perlawanannya hingga 1965. Kahar bahkan masih diingat dengan baik oleh masyarakat di sekitar Luwu sampai hari ini. Satu dekade belakangan, beberapa keturunan Kahar di Luwu terjun ke dunia politik. Tak semuanya sukses. Puluhan tahun silam, dalam laporan bertanggal 28 Oktober 1950, Bernard Wilhelm Lapian, yang saat itu bertindak sebagai Gubernur Sulawesi, menyebut “Kahar Muzakkar [...] sebagai pelopor perjuangan kemerdekaan […] yang telah memupuk [...] perjuangan rakyat terutama di daerah Sulawesi Selatan.” Intinya, pada 1950-an, Kahar Muzakkar dihormati kaum gerilyawan dan “disambut meriah dengan arak-arakan” di sekitar Luwu dan Tana Toraja. Dibedil Maung Siliwangi Meski sudah dinyatakan tertembak pada Februari 1965, ada sebagian orang yang masih percaya bahwa Kahar Muzakkar belum mati. Makamnya tak pernah ditemukan, atau pemerintah Indonesia sengaja menyembunyikan kuburannya demi menghindari pemujaan. Pada 1954 pernah ada kabar bohong yang menyebut Kahar tewas. Kabar ini beredar sampai ke Jakarta. Pihak pemerintah daerah Sulawesi melalui Kepala Bagian Politik Kegubernuran Sulawesi J. Latumahina akhirnya mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri untuk mengklarifikasi kabar kematian tersebut. Mereka mendengar kabar bahwa Kahar Muzakkar meninggal di Palopo. “Sepanjang penyelidikan kami, berita ini belum dapat dibenarkan dan masih terus diadakan penyelidikan,” jelas Latumahina dalam surat bertanggal 23 Mei 1954. Baca juga: Makam Pemberontak yang Ditakuti Penguasa Menurut catatan Anhar Gonggong, “Ketika terbetik berita bahwa ia telah meninggal pada 1954, Bintang Timur edisi 24 Mei 1954 bahkan tidak segera mengutuk kegiatan Kahar Muzakkar sebagai pemberontak dan pengkhianat negara." Surat kabar organ Partai Komunis Indonesia ini malah menulis, "Di dalam menilai Kahar Muzakkar, kita tidak boleh gegabah.” Menurut catatan Kodam Siliwangi dalam Siliwangi dari Masa ke Masa (1979), Kahar tertembak pada 2 Februari 1965. Usai kawasan di sekitar Sungai Lasalo dikepung dan disisir oleh pasukan Siliwangi, sepeleton prajurit dari Siliwangi di bawah komando Pembantu Letnan Satu Umar Sumarsana ditugaskan mencari posisi Kahar Muzakkar pada 27 Januari 1965. Usaha itu terlihat pada 2 Februari 1965. “Dari seberang Sungai Lasalo, mereka melihat ada orang yang mandi dan membawa karaben. Peleton Umar kemudian berkesimpulan, tak jauh dari situ, terdapat perkubuan musuh (gerombolan). Tiba-tiba pada pukul 16.30 (2 Februari 1965) terdengarlah sayup-sayup lagu Terkenang Masa Lampau dari sebuah radio, yang dipancarkan dari radio Malaysia Kuala Lumpur,” catat buku tersebut. Menurut pengikut Kahar, lagu tersebut adalah lagu kesukaan sang panglima. Pasukan Umar pernah diberitahu, “satu-satunya radio di hutan itu adalah milik Kahar Muzakkar.” Hal ini ditegaskan lewat informasi tawanan bernama Ali Basya. Penyusupan ke sekitar pondok gerombolan dilakukan oleh peleton dari Kompi D. Batalyon 330/Kujang Siliwangi yang dipimpin Umar. Sebelum penyergapan, semua jalur pelarian ditutup di areal posisi persembunyian Kahar. Dini hari 3 Februari 1965, Pasukan Umar mulai bergerak. Baca juga: Ejekan Tentara Belanda untuk Maung Siliwangi Menurut catatan Siliwangi dari Masa ke Masa, “Ketika tembakan-tembakan dilepaskan, dari gubuk ke-5 (dari utara) melompatlah Kahar Muzakkar, yang dengan jelas dapat dikenal oleh Kopral Dua Ili Sadeli […] Kahar Muzakkar sedang menggenggam granat tangan. Kopral Dua Ili Sadeli pun tak mau mengambil risiko ... Dengan jitu, ia melepaskan tembakan terarah ke dada Kahar yang kemudian tewas seketika.” Kabar kematian Kahar sampai ke Jakarta agak telat karena lokasi baku tembak sulit dijangkau. Jenazahnya kemudian dibawa ke Makassar. Panglima militer di Makassar, Kolonel M. Jusuf, “memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyaksikan jenazah itu, dan memastikan sendiri bahwa yang mati benar-benar adalah Kahar Muzakkar,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006). Meski begitu, isu Kahar masih hidup tetap ada. Toh, masyarakat tak melihat ada kuburan Kahar Muzakkar sampai sekarang. “Setelah satu hari dibaringkan di rumah sakit, kemudian jenazah dikuburkan, hanya sedikit pejabat militer yang mengetahuinya.” Baik M. Jusuf dan perwira lain seperti Solichin GP juga enggan memberi tahu letak pasti kuburan Kahar. Baca juga: M. Jusuf, Panglima ABRI Kesayangan Para Prajurit Setelah Kahar Terbunuh Kahar boleh mati pada 3 Februari 1965, tepat hari ini 55 tahun lalu, tapi masih ada pengikut Kahar yang masih bergerilya hingga 1970-an di sekitar perbukitan Duri, Enrekang, yang dekat Tana Toraja. Di sana nama Kahar harum. Daerah Baraka, dekat Kalosi dan Anggeraja—jalan poros ke Tana Toraja—dulunya jadi markas pasukan Kahar Muzakkar. Masyarakat di daerah itu punya bayangan sendiri soal Kahar Muzakkar. Menurut cerita dari Haerul, warga Duri yang mendalami sejarah di Universitas Hasanuddin, Makassar, pengikut Kahar seperti Sanusi Daris bersembunyi di hutan hingga 1970-an. Sesekali pengikut Daris turun ke desa-desa untuk mendapatkan makanan. Biasanya dengan isyarat cahaya cermin. Itulah kenapa masyarakat menyebut, “gunung tempat Sanusi Daris bersembunyi dengan nama Sansudaris,” ujar Haerul. “Di sini, sebagian orang anggap Sanusi Daris adalah pahlawan, tapi beberapa juga menganggap pemberontak.” Menurut Martin van Bruinessen dalam Contemporary Developments in Indonesian Islam (2013), “setelah Kahar terbunuh, Sanusi Daris tetap bersembunyi, hidup di dalam gua. Ketika dia keluar dari persembunyiannya, dia segera ditangkap dan diadili. Dia akhirnya dilepaskan karena intervensi dari Jenderal M. Jusuf.” Andi Faisal Bakti dalam "Collective Memories of the Qahhar Movement" menulis "Sanusi Daris ditangkap pada 5 Oktober 1982." Bersama pemimpin senior lain, ia diinterogasi secara brutal dan disiksa selama penahanan dua tahun dan disidangkan di Makassar. Setelah bebas, Sanusi ke luar negeri. “Rupanya untuk mencari Kahar,” tulis Andi Bakti dalam artikelnya yang dimuat pada buku Beginning to Remember; The Past in the Indonesian Present (2005). Sanusi dan sisa pengikut lain tampak yakin “bahwa Kahar masih hidup dalam pengasingan. Meski gagal menemukan Kahar, Sanusi berhasil mengorganisir pertemuan dan pendukung di Malaysia.” Setelah Sanusi meninggal dunia, Syamsul Bachri alias Syamsul Fattah menggantikan Sanusi sebagai pemimpin Republik Persatuan Sulawesi (RPS).



         


 sejarah  indonesia perlu diketahui. Nama Indonesia sendiri baru digunakan pertama kali saat Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928. Jauh sebelum itu wilayah yang kini disebut Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Nusantara. Berbagai kerajaan berada dalam wilayah Nusantara ini.

Nusantara hampir tidak pernah luput dari penjajahan bangsa asing. Sumber daya alam yang melimpah jadi incaran. Bangsa Portugis di tahun 1509 berhasil menguasai wilayah Malaka, Ternate dan Madura. Salah satu perlawanan yang dilakukan adalah dari Fatahillah dari Demak yang berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis yakni pada tahun 1602.

Setelah Portugis, Belanda kemudian ke wilayah Banten dalam pimpinan Cornelis de Houtman. Saat itu, Belanda ingin membentuk VOC dan menguasai rempah-rempah Indonesia.

Dalam membentuk VOC ada beberapa perjanjian yang harus ditaati oleh Belanda seperti perjanjian Bongaya hingga perjanjian Giyanti. Setelah VOC dibubarkan, Belanda akhirnya menunjuk Herman William Daendels sebagai gubernur jenderal Hindia-Belanda. Di masanya, ia mempekerjakan paksa masyarakat di Pulau Jawa bekerja untuk membuat jalur Anyer-Panarukan.

Belanda menguasai Indonesia selama kurang lebih 350 tahun. Hingga akhirnya Jepang masuk ke Indonesia dan menyerang Belanda hingga menyerah tanpa syarat. Pemerintahan Jepang berakhir setelah 3,5 tahun menjajah dan berakhir ketika tentara sekutu kalah pada Perang Dunia II. Selain itu dua kota di Jepang Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh tentara sekutu.

Mengetahui Jepang kalah, kemudian dibentuk badan BPUPKI atau Dokuritsu Junbi Cosakai yang diketuai oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat.

Setelah mendengar kekalahan Jepang pada 14 Agustus 1945, golongan muda mendesak agar golongan tua cepat melakukan proklamasi kemerdekaan.

Dalam sejarah  indonesia proses kemerdekaan, terjadi peristiwa Rengasdengklok yakni peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta oleh golongan muda untuk mempercepat pelaksanaan proklamasi.

Setelah kembali ke Jakarta, Soekarno dan Hatta mulai menyusun teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda dan dibantu oleh Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarno, B.M, Diah, Sudiro dan Sayuti Melik.

                         Teks proklamasi pun akhirnya dibacakan pada 17 Agustus 1945.vsejarah bahasa indonesia setelah merdeka ialah mengesahkan dan menetapkan Undang-undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia yang akhirnya dikenal masyarakat sebagai UUD 1945.

            Suku-suku di Indonesia memiliki bahasa masing-masing yang khas. Ketika berbagai suku tersebut saling berinteraksi sebagai warga negara Indonesia, bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana berkomunikasi. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang digunakan oleh warga negara Indonesia.

             Dilansir situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), awal mula sejarah bahasa indonesia yakni bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam suatu rapat dan berikrar:

1. Bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia,
2. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,
3. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Nah, Bahasa Indonesia lalu dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945. Karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 36 disebutkan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.

Lalu dari mana Bahasa Indonesia berasal? Berdasarkan keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa berdasarkan sejarah bahasa indonesia mempunyai akar dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sudah dipergunakan sebagai bahasa penghubung bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan hampir di seluruh Asia Tenggara.

Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi).

Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya. Di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha.

Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa penghubung antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan baik pedagang antar suku di Nusantara maupun para pedagang yang datang dari luar Nusantara. Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.

Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra pada abad ke-16 dan abad ke-17 seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.

Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur. Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya.

Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.

Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara memengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia sesuai isi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Bahasa Indonesia pun dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah. Meskipun bahasa dari daerah masing-masing masih dipakai, namun untuk mempersatukan bangsa, masyarakat Indonesia antar suku menggunakan bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari.


Itulah 
sejarah bahasa indonesia. Semoga dengan ini, menambah pengetahuan detikers dan rasa cinta kepada Tanah Air.



             Desa sepabatu bagian dari kecamatan tinambung provinsi Sulawesi barat yg dimana sebagian masyarakat mempunyai dua sumber penghasilan yaitu dari pohon kelapa dan nelayan adapun pemuda pemuda dari desa tersebut mempunyai inisiatif untuk membuat kerajinan tangan yg diambil dari bahan bahan yg sederhana contohnya tempurung kelapa yg tidak terpakai dan bambu bambu yg sudah jadi sampah di desa itu mampu iya berdayakan dengan membuat sebuah lampu hias dari bahan tempurung kelapa dan bambu tersebut.

Untuk melangkah dalam membangun desa kita harus memetakan permasalahan apa saja yang terjadi di desa kita baik dari sisi Ekonomi , Budaya dan adat istiadat, Kesehatan, Kultur masyarakat dan Infrastruktur desa penunjang semua sisi sebelumnya. Kita ambil contoh dalam bidang Infranstruktur desa banyak jalan/lorong yg tidak memiliki papan nama, susahnya menuju tempat2 strategis seperti tempat wisata maupun dalam bidang keagamaan, dll agar desa bisa berkembang dan banyak diketahui oleh warga luar.

Adapun penghasilan para warga sepabatu hanya 2 (dua) yaitu nelayan dan kebun kelapa dan untuk saat ini sangat susah mendapatkan pemanjat pohon kelapa dikarenakan kurangnya pembelajaran terhadap pemuda pemuda dan untuk para nelayan waktu berlayar tidak menentu karena kurangnya akses untuk berlayar dan kurangnya perhatian terhadap pemerintah desa mengenai tempat baik untuk pembuatan perahu maupun tempat parkir perahu para nelayan. Menurut narasumber, kondisi nelayan di desa ini dulunya berkelompok tapi semakin tingginya persaingan dalam berlayar sebagian memilih untuk berlayar dengan anak atau saudarahnya. Tangkapan dalam sebulan tidak memunkinkan untuk mendapat ikan banyak karena konon katanya tangkapan ikan tergantung dari bulan atau hari hari tertentu saja .

Desa Sepabatu terletak di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Luas Wilayah Desa Sepabatu 215 Ha yang terdiri dari : Area perkebunan seluas + 0,21 km2 , Area permukiman seluas + 0,17 km2, dan Perkantoran + 0,02 km2 ;. Desa Sepabatu berbatasan dengan :  Sebelah Utara : Desa Lekopadis  Sebelah Selatan : Laut Paroma  Sebelah Barat : Desa Tandung  Sebelah Timur : Kelurahan Tinambung  Desa Sepabatu terdiri atas 4 Dusun, yaitu : a. Dusun Sepabatu 1; b. Dusun Sepabatu 2; c. Dusun Kekkes; d. Dusun Para;. Jumlah penduduk Desa Sepabatu adalah 2.098 Jiwa, perempuan 1,115 Jiwa dan Laki Laki 983 Jiwa.




    


Setiap 28 Oktober diperingati Hari Sumpah Pemuda yang dicetuskan 92 tahun lalu. Salah satu sumpahnya, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tidak banyak negara bekas jajahan di dunia yang memiliki bahasa persatuan seperti orang Indonesia.

Dan meski bahasa Indonesia buat sebagian orang Sulawesi Selatan masih berlepotan, namun tak banyak yang tahu apabila nenek moyangnya adalah pencetus bahasa Indonesia dan penggali bahasa Sunda, — bahasa daerah kedua yang paling banyak penuturnya di Indonesia.

Kedua tokoh penata bahasa Indonesia dan Sunda ini ternyata berdarah Bugis Makassar. Mereka adalah Raja Ali Haji dan Daeng Kanduruan Ardiwinata. Keduanya diakui telah memberi kontribusi besar bagi pengembangan bahasa Indonesia dan Sunda.

Sekiranya Raja Ali Haji dan Daeng Kanduruan lahir di tanah leluhurnya, mungkin cara berbahasanya mirip dengan orang Bugis Makassar umumnya, yang sistem bahasanya hanya mengenal konsonan ng dan bunyi hamzah pada akhir kata. Konsonan ng acap digunakan untuk konsonan n dan m. Semisal minung (minum) jalang (jalan). Sedangkan bunyi hamzah kerap dipakai untuk konsonan p, t atau d. Contoh tela’ (telat) teka’ (tekad). 

Begitulah, berkat jasanya dalam pengembangan bahasa Melayu, Raja Ali Haji dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia. Tokoh ini terkenal lewat karya sastranya Gurindam Dua Belas. Ia juga membuat sebuah pedoman yang menjadi standar bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia.

Raja Ali Haji dilahirkan di Selangor, Malaysia tahun 1808, walaupun beberapa sumber menyebutkan bahwa dia dilahirkan di Pulau Penyengat, Riau.

Raja Ali Haji adalah putra dari Raja Ahmad dan cucu dari Raja Haji Fisabililah, saudara dari Raja Lumu, Sultan pertama dari Selangor. Raja Ali Haji merupakan keturunan dari bangsawan dan prajurit Bugis yang datang ke Riau pada abad ke-16. Ayahnya bergelar Engku Haji Tua. Adapun ibunya, Encik Hamidah binti Malik adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga dari keturunan Bugis.

Dilahikan dari keluarga terpandang membuat Raja Ali Haji tertarik dengan sastra. Ia lalu mendalami ilmu bahasa pada 1822 saat mengikuti ayahnya pergi ke Batavia. Ia juga menimba ilmu di Mekkah sekaligus berhaji dan belajar bahasa Arab dan ilmu agama.

Pada 1845, Raja Ali Haji menjadi penasehat agama di Kesultanan Riau-Lingga. Saat intulah ia sangat produktif dalam menulis sastra, pendidikan dan kebudayaan.

Selain menorehkan Gurindam Dua Belas yang dipublikasikan oleh E. Netscher pada 1854,  juga Bustan al-Kathibin ditulis tahun 1857 di Betawi. Karyanya yang menjadi acuan bahasa Melayu adalah Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga. Buku ini merupakan kamus satu bahasa pertama yang ada di Indonesia saat itu. Buku ini sendiri ditetapkan sebagai pedoman Bahasa Indonesia dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928.

Daeng Kanduruan Pelopor Sastra Sunda

Demikian pula, Daeng Kanduruan Ardiwinata adalah seorang nasionalis, agamis, dan sastrawan Sunda terkemuka. Ia merupakan seorang guru bahasa, ahli bahasa, pendiri dan Ketua Paguyuban Pasundan, serta Redaktur Balai Pustaka.

Walaupun ayahnya keturunan Makassar tetapi hal itu tidak membatasi kecintaannya pada sastra Sunda. Ia pengarang roman pertama dalam bahasa Sunda.

Daeng Kanduruan lahir di Bandung, tahun 1866 dan meninggal di Tasikmalaya tahun 1947. Ayahnya bernama Baso Daeng Passau alias Daeng Sulaeman.

Kakeknya bernama Karaeng Yukte Desialu adalah Raja Lombo dari Makassar yang diasingkan Belanda ke Bandung bersama putranya Daeng Sulaiman karena memberontak. Di Bandung, Daeng Sulaiman menyunting gadis Priangan Nyi Mas Rumi yang kelak melahirkan Daeng Kanduruan

Daeng Kanduruan dianggap sebagai pelopor sastrawan yang menggunakan bahasa Sunda. Lebih penting lagi, ia adalah penata bahasa Sunda yang tercermin dalam karyanya Tata Bahasa Sunda. Karya lainnya adalah Dongeng-dongeng Soenda, Soendaasch Spel- en Leesboekje, Serat Sabda Rahajoe, Sakola Noe Lolong di Bandoeng Djeung Kasakit NjÄ•ri Mata Anoe Matak Lolong

Tak heran jika dia menerima Ridder In De Orde Van Orange Nassau” dari Pemerintah Kerajaan Belanda atas prestasi di bidang sastra.

Tak cukup dengan itu, Daeng Kanduruan juga berjasa dalam bidang agama dan pendidikan dengan pendirian sekolah agama.

Wel, ternyata nenek moyang orang Bugis Makassar bukan cuma seorang pelaut belaka, akan tetapi juga pengukir dan pencipta bahasa.

 ISLAM DI MANDAR

Islam di Mandar pertama kali masuk saat pemerintahan Daetta Tommuane Maradia keempat Balanipa yang di bawa oleh Abdurahim Kamaluddin
Namun tahun yang menyatakan kapan masuknya Islam di Mandar belum pasti hanya diperkiraan pada tahun 1610-1620 Masehi, karena masa pemerintahan Maradia Daetta Tommuane berlangsung tahun 1615 Masehi pun menerima Islam yaitu sesudah Gowa menerima Islam, maka Mandar pun menerima yaitu setelah lebih dahulu melalui Sawitto yaitu pada periode pemerintahan Daetta Tommuane
Pada masa Daetta Tommuane agama Islam diterima sebagai agama kerajaan, perangkat adat di bidang agama Islam juga dilengkapi, misalnya masalah perkawinan, zakat dan shalat lima waktu
Perhatian Maradia kepada agama Islam, ditunjukan dengan diakomodasinya kelompok ulama dalam struktur pemerintahan sebagai bagian pilar komposisi ketahanan kerajaan, yang terdiri dari:
1. Golongan bangsawan yang populer dengan gelar tomawuweng
2. Golongan alim ulama dan
cendekiawan
3. Angkatan bersenjata,
4. Pengusaha
Bendera kebesaran masing￾masing menggunakan ayat –ayat Al-Qur’an
Akomodasi Maradia Arajang Balanipa terhadap empat entitas tersebut didasari oleh amanat adat yang tertuang dalam Lontara Mandar yang memastikan bahwa :
Appe Buanganna Banua Tandi Ruppaq; Mesami Diang Tomaccana; Daqduanna, Diang Topanritana; Tatalunna, Diang Tosugina; Appeqna, Diang Tobaranina
Empat entitas yang mendukung stabilitas negeri, yaitu :
1. Keberadaan cendekiawan
2. Keberadaan ulama
3. Wirausahawan dengan semangat
etos kerjanya
4. Keberadaan orang-orang yang
kesatria

 SULTAN ALAUDDIN PENYEBAR AGAMA ALLAH Di TANAH BUGIS

Raja pertama Kerajaan Gowa yang menerima Islam dan membiar kan Islam berkembang di Sulawesi Selatan untuk menggantikan animisme, kepercayaan yang dianut masyarakat setempat sebelum Islam hadir.
Berkuasa pada 1593-1639 M, I Manga’rangi Daeng Manrabbia akhirnya memeluk Islam. Ia pun menjadi raja Gowa pertama yang memeluk agama Allah dan mendapat gelar Islam, yakni Sultan Alauddin. Belakangan, perdana menteri dan pejabat kerajaan lainnya mengikuti jejak sang sultan memeluk Islam.
Setelah menyandang gelar sultan, dalam menjalankan pemerintahan, Sultan Alauddin dibantu sebuah dewan yang disebut Kasuwiyang Salapanga (Majelis Sembilan) atau Bate Salapanga. Sedangkan, dalam menjalankan undang-undang pemerintahan, ia diawasi oleh paccalaya (hakim).
Dalam struktur pemerintahan Islam Kerajaan Gowa dikenal pula jabatan mangkubumi, pegawai tinggi urusan istana, panglima tertinggi (laksamana), bendahara kerajaan yang bertugas mengurus perdagangan dan hubungan luar negeri, serta pejabat khusus bidang keagamaan yang disebut kadhi. Untuk menyelenggarakan kegiatan dan pendidikan di bidang keagamaan, kadhi dibantu oleh imam, khatib, dan bilal

        MARA'DIA BALANIPA I Todzilaling bagi masyarakat Ulu Salu memanggil dengan sebutan La Puang. Di Lita' pute Napo beliau di Makamkan disebelah makam istrinya. Sejarah adalah akar peradaban sebuah bangsa, memahami sejarah berarti mengetahui asal usul kita dan dimana kita akan bermuara.

Ada pepatah mengatakan ketika ingin menghancurkan sebuah bangsa maka manipulasi sejarahnya, hancurkan sejarahnya.
Maka sejarah adalah bukti eksistensi sebuah bangsa, sebuah bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya.

     Pendirian Awal

Pada abad ke-13 M, di kawasan Mandar, Kerajaan Pasokkorang didirikan. Kerajaan ini menguasai wilayah Mandar dengan kekuatan militer. Pemberontakan dimulai pada pertengahan abad ke-15 M, setelah raja mulai memerintah secara sewenang-wenang. Selain itu, kerajaan ini juga mulai memperluas wilayahnya hingga ke pantai barat Pulau Sulawesi dengan menjalin jalur perdagangan melalui jalur laut. Desa-desa di daerah hilir Sungai Mandar akhirnya membentuk aliansi yang disebut Appeq Banua Kayyang. Aliansi tersebut terdiri dari wilayah Napo, Samasundu, Mosso, dan Todang-todang. Pemimpinnya disebut Tomakaka. [6]

Aliansi Appeq Banua Kayyang akhirnya tak mampu menahan serangan dari Kerajaan Pasokkorang. Pihak Tomakaka akhirnya meminta bantuan dari Kerajaan Gowa. Akhirnya dikirim I Manyambungi yang merupakan anggota pasukan elit Kerajaan Gowa. Ia berhasil menahan serangan Kerajaan Passokkorang dan mempertahankan wilayah persekutuan Appeq Banua Kayyang. [7] Setelah itu, aliansi Appeq Banua Kayyang berubah menjadi Kerajaan Balanipa dengan I Manyambungi sebagai raja pertama. Gelar Pappuangan digunakan untuk menggantikan gelar Tomakaka. Sedangkan gelar raja adalah Mara'dia. Setiap Pappuangan tetap mengatur dan mengurus wilayahnya.

Sistem pemerintahan
Kerajaan Balanipa menjalankan pemerintahan dengan sistem presidensial bernama Appe Banua Kayyang. Sistem ini membentuk penguasa daerah yang disebut Pappuangan, yang meliputi Pappuanagan Napo, Pappuangan Samasundu, Pappuangan Mosso dan Pappuangan Todang-todang. Pappuangan memiliki kedudukan yang sama di Kerajaan Balanipa. Mereka menjadi anggota dewan adat yang disebut ada 'kayyang. Dewan ini berhak memilih, mengangkat, dan menghapus kekuasaan raja Kerajaan Balanipa. [9]

Kerajaan Balanipa juga tidak memiliki istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan. Sistem pemerintahan diterapkan sepenuhnya di rumah raja terpilih. Hal itu dilakukan agar masyarakat lebih mudah menyampaikan kondisinya kepada raja. Selain itu, Kerajaan Balanipa juga melakukan pemerataan antara raja dengan masyarakat, sehingga tidak ada upeti dari masyarakat kepada raja. Semua urusan pemerintahan sepenuhnya dibiayai oleh raja dengan bantuan sukarela dari pemilik wilayah dan masyarakat. [10]

Pewarisan tahta Kerajaan Balanipa menerapkan sistem demokrasi. Pemilihan seorang raja tidak berdasarkan garis keturunan, tapi berdasarkan kemampuan memerintah. Selain itu, calon raja harus memiliki etika yang baik, berprestasi, dan mencintai rakyat di kerajaannya. Para calon raja dipilih dan diangkat sebagai raja oleh Appe Banua Kayyang. Raja-raja yang terpilih masih mendapat pengawasan ketat dari Appe Banua Kayyang. Raja yang melakukan pelanggaran kekuasaan akan dicopot dari jabatannya, baik oleh masyarakat sendiri maupun diwakili oleh Appe Banua Kayyang. [2]

Kerajaan Balanipa juga menerapkan pembagian dan pemisahan kekuasaan. Pembuatan aturan kerajaan sepenuhnya menjadi hak masyarakat yang diwakili oleh Appe Banua Kayyang. Kedudukan Appe Banua Kayyang adalah sebagai pemegang adat di pusat pemerintahan kerajaan dan pemimpin di wilayahnya masing-masing. Raja berperan sebagai penegak aturan di pusat pemerintahan, sedangkan di daerah lain dilakukan oleh Pappuangan. Pengawasan terhadap pelaksanaan aturan kerajaan ditugaskan ke Markas Distrik Kayyang. Tugasnya adalah menasihati raja dalam masalah hukum, memimpin persidangan, dan membantu raja. Pabbicara Kayyang dipilih oleh raja dengan persetujuan Appe Banua Kayyang. Kayyang Pabbicara Pekerdekaan berada di pusat pemerintahan, sedangkan di daerah lain pekerjaan diberikan kepada penegak hukum bernama Tomawuweng.

Sosial budaya
Masyarakat Kerajaan Balanipa memiliki tiga nilai sosial dalam menjalani kehidupan, yaitu angga, siri dan lokko. Angga adalah nilai-nilai yang menentukan baik dan buruk, benar dan salah, serta apa yang pantas dan tabu dalam hubungan sosial. Pembentukan hukum adat Kerajaan Balanipa didasarkan pada angga. Proses pelaksanaan dan pemeliharaan angga dikenal dengan istilah siri. Ukuran harga diri atau harga diri seseorang ditentukan oleh siri. Mereka yang tidak menerapkan nilai angga dan siri disebut lokko. Siri dipahami sebagai nilai kemanusiaan pribadi yang baik. Di sisi lain, lokko dipahami sebagai harga diri dalam memandang martabat seseorang dalam marga atau masyarakat umum. [12]

Sebelum terbentuknya kerajaan Balanipa, masyarakat Balanipa belum mengenal sistem stratifikasi sosial. Setiap perselisihan diselesaikan oleh hukum rimba dengan kekuasaan untuk menentukan pihak yang menang. Pihak yang berselisih harus bertarung di arena pertarungan yang disebut bala tau disaksikan oleh masyarakat umum. Hal ini menimbulkan kericuhan, sehingga dibentuklah kelompok peradilan hukum bernama tomawuweng. Tugasnya adalah menentukan pihak yang bersalah dalam suatu perselisihan. Tomawuweng harus memiliki pengetahuan yang baik tentang adat dan hukum angga. Setelah semakin banyak masalah di masyarakat, mereka kemudian mengangkat seorang pemimpin yang bernama Tomakaka. Tugasnya adalah memastikan keamanan dan menyatukan orang-orang agar dan melindungi mereka dari ancaman eksternal. Dalam perkembangannya, Tomakaka menjadi penguasa kecil yang memerintah dengan bantuan Tomawuweng. Dalam kepemimpinan orang Tomakaka, stratifikasi sosial hanya terdiri dari kelompok orang merdeka (tau maradeka) dan orang pilihan (tau pia).

Setelah terbentuknya Kerajaan Balanipa, kelas sosial terdiri dari tau maradeka, tau pia, maraqdia dan batua. Golongan maraqdia merupakan kedudukan sosial raja-raja Balanipa yang menguasai masyarakat, sedangkan tau pia dianggap memiliki kekuasaan langsung atas wilayah dan masyarakat. Kelas sosial terendah adalah kelas batua yang terdiri dari budak-budak yang membantu urusan rumah tangga. Kelas ini masih memiliki hak yang sama dengan kelas sosial lainnya dan dilindungi dari kelas tau pia dan maraqdia dari Kerajaan Balanipa. [3]

Dalam menyelesaikan urusan sosial, Kerajaan Balanipa menerapkan budaya musyawarah yang disebut sirumung karaya. Setiap keputusan harus merupakan keputusan yang disepakati bersama. Kesepakatan tersebut diperoleh dari proses tukar menukar pendapat yang disebut assamaturuang dan hasil keputusannya disebut assamalewuang. Kelanjutan Sirumung Karaya adalah budaya gotong royong yang disebut sikalulu. Kegiatan Sikalulu antara lain mengusir penjajah, membangun jalan, melaksanakan upacara adat dan keagamaan. Selain itu, Sikalulu juga berupa kegiatan keluarga seperti membantu pindah rumah, mengumpulkan dan membersihkan hasil bumi, mendorong perahu, acara syukuran, khitanan, dan pernikahan.