Arung Palakka bergelar La Tan-ri Tatta To 'Urong To-ri Sompi Patta Malampei Gammana Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sri Sultan Sa'ad ud-din, mengacu pada ejaan huruf lontara. Pengucapan yang tepat adalah La Tenritatta To Unru To-ri SompaE Petta MalampeE Gemme'na Daeng Serang To 'Appatunru Paduka Sultan Sa'adduddin.
Arung Palakka pertama kali menikah dengan Arung Kaju, namun akhirnya bercerai. Kemudian menikah dengan Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa pada tanggal 16 Maret 1668, sebelumnya merupakan istri dari Karaeng Bontomaronu dan Karaeng Karunrung Abdul Hamid. Pernikahan ini tidak berlangsung lama dan keduanya bercerai pada 26 Januari 1671. Untuk ketiga kalinya, ia menikah dengan We Tan-ri Pau Adda Sange Datu-ri Watu, Datu Soppeng, di Soppeng pada 20 Juli 1673. Istri ketiganya adalah putri La Tan-ri Bali Beowe II, Datu Soppeng, dan sebelumnya adalah istri La Suni, Adatuwang Sidenreng. Pernikahan keempatnya dilangsungkan pada 14 September 1684 dengan Daeng Marannu, Karaeng Laikang, putri Pekampi Daeng Mangempa Karaeng Bontomaronu, Gowa, dan sebelumnya istri Karaeng Bontomanompo Muhammad.
Arung Palakka adalah pahlawan yang ditakuti di seluruh Batavia. Pria tampan berambut gondrong dan bermata bersinar ini punya nama yang mengguncang semua pahlawan dan pejuang di Batavia. Seolah-olah diperintahkan untuk selalu bersamanya. Pria Bugis Bone dengan badik yang mampu mengurai isi perutnya ini telah merambah Batavia sejak tahun 1660-an, ketika ia dan para pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman & kekuasaan Sultan Hasanuddin.
Batavia pada abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalkan demi mencapai tujuan. Pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan merupakan udara yang menjadi nafas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan merupakan satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan kepada bangsa yang harus ditegur dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil pasang surut kolonialisme Eropa. Kekerasan tersebut seolah menegaskan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan seperti serigala yang memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi orang yang perkasa bagi sesamanya.
Nama Arung Palakka ditemukan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang memuat data sejarah tentang Batavia di masa lampau dengan sejarah kelam. Berbagai referensi ini menyimpan sedikit cerita tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri dengan gagah di tengah Kota Watampone
Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang membara untuk menaklukkan. Ia terasing dari bangsanya, suku Bugis Bone yang kebebasannya terkekang. Namun, ia sebebas burung merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Dia adalah penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang di seberang kota seukuran Batavia, kekuatannya semakin bertambah ketika ia menjalin persekutuan yang menakutkan dengan dua tokoh terisolir lainnya, yaitu seorang Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun aliansi rahasia dan memegang kendali atas VOC selama masa mereka, termasuk memonopoli perdagangan emas dan pertanian.
Ketiga karakter terasing ini menjadi horor bagi para pahlawan saat itu. Speelman adalah pejabat tinggi VOC yang jauh dari asosiasi VOC. Ia dikeluarkan dari relasi sosial karena terbukti terlibat dalam perdagangan ilegal ketika masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel pada tahun 1665. Arung Palakka adalah seorang pangeran Bone yang hidup dalam penjajahan dan ditawan oleh Kerajaan Gowa. Dia memberontak dan bersama para pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dan memberinya sebuah daerah di pinggiran Kali Angke, sehingga para prajurit Bone ini dipanggil To Angke atau orang Angke. Sedangkan Kapten Jonker adalah komandan dari Pulau Manipa, Ambon. Dia memiliki banyak pengikut setia, tetapi tidak pernah menguasai daerah di mana orang-orang mengenalinya sebagai penguasa. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. VOC memberinya rumah dan tanah yang luas di daerah Marunda dekat Cilincing.
Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapten Jonker semuanya berawal dari hal yang sama, yaitu isolasi. Ketiganya memiliki sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legendaris. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam perlawanan terhebat dalam sejarah perang yang pernah dialami oleh VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu setelah Perjanjian Bongaya yang menjadi momok bagi VOC dan pembatas (barikade) untuk menguasai kawasan timur Indonesia, khususnya jalur rempah-rempah Maluku, pada 18 November 1667.
Arung Palakka sangat populer karena berhasil menaklukkan Sumatera dan membakar perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi yang berseberangan, di satu sisi ia ingin membebaskan Bone, namun di sisi lain ia menaklukkan wilayah lain di nusantara. Ceritanya, pada tahun 1662 terjadi kesepakatan antara VOC dan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian disebut Perjanjian Painan itu ditujukan untuk monopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayangnya, orang Minang mengamuk pada tahun 1666 dan membunuh perwakilan VOC di Padang yang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke Minangkabau dalam sebuah ekspedisi yang disebut Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bone, ia berhasil menekan dan memadamkan perlawanan orang Minangkabau untuk menaklukkan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas ke Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat menjadi Raja Ulakan.
Sementara itu, Kapten Jonker memiliki reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan kepada seorang karyawan keturunan VOC Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukkan nusantara di Barat, Tengah dan Timur. Mereka memiliki peran besar dalam membawa VOC ke puncaknya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tak heran jika ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuasaan VOC saat itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya karena memiliki pasukan yang besar. Dari ketiganya, dia hanya mengandalkan tentara bayaran multinasional dengan loyalitas rendah. Akibat kekuasaan dan kendali besar monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.
Sayangnya, kisah menakjubkan ketiga pahlawan Batavia harus berakhir dalam waktu singkat. Musuh Speelman, perwira Prancis Isaac decornay de Saint Martin, segera bergerak. Panglima perang yang memenangkan perang di Cochin, Kolombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat, berhasil mengungkap semua korupsi dan kenakalan Speelman hingga akhirnya Speelman dicopot dari jabatan Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapten Jonker. Wilayah pria Ambon di Pejonkeran Marunda ini dikepung, lalu diserang. Kapten Jonker tewas dalam penggerebekan itu, kepalanya dipenggal dan diekspos. Para pengikutnya terbunuh dan keluarganya diasingkan ke Kolombo dan Afrika.
Arumpone Bone
Menggantikan ibunya sebagai Datu Mario-ri Wawo ke-15. Mendapat gelar Arung Palakka sebagai hadiah untuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan di Makassar. Diakui oleh Belanda sebagai Arung Pattiru, Palette dan Palakka di Bone dan Datu Mario-ri Wawo di Soppeng, Bantaeng dan Bontoala, 1670. [2]
Menyatakan pelepasan paksa takhta paman kandungnya pada tahun 1672. Dan dimahkotai sebagai Sultan Bone dengan gelar Paduka Sri Sultan Sa'ad ud-din, 3 November 1672. [2]
Andaya mengalihkan perhatiannya pada Arung Palakka sebagai representasi dari tema dasar dan kepercayaan yang selama ini mendominasi kehidupan masyarakat Bugis atau Makassar. Dari situ ia berusaha mencari akar karena Arung Palakka bersedia bersekutu dengan VOC saat melawan saudaranya sendiri di Kerajaan Gowa yang pada masa kejayaannya sebagai salah satu kerajaan terkuat dan terbesar di Nusantara abad ke-17.
Dengan latar belakang tersebut, Andaya mengawali sejarah karakternya dengan membahas sejumlah ciri budaya tertentu masyarakat Sulawesi Selatan yang dikaitkan dengan situasi sejarah abad ke-17, khususnya perkembangan Islam dan perdagangan internasional yang berujung pada ketegangan. antara Gowa, Bone, dan VOC yang hadir di sana sejak 1601. Ketegangan yang ia hadirkan secara mendetail menjadi latar lahir dan mengisi benak masa kecil dan remaja Arung Palakka.
Arung Palakka lahir sekitar tahun 1634 di Desa Lamatta, daerah Mario Wawo Soppeng, sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Saat berusia delapan tahun, Bone diperangi oleh Kerajaan Gowa dan berhasil menaklukkannya. Sejak berusia 11 tahun Arung Palakka dan keluarganya disandera di Istana Gowa. Mereka beruntung menjadi abdi Karaeng Pattinggaloang, seorang tokoh penting dan jenius di Kerajaan Gowa. Di bawah asuhannya, Arung Palakka tumbuh menjadi pangeran yang mengesankan baik dalam otak maupun olahraga.
Meski aktif berkiprah di Istana Gowa dan berteman dengan pemuda Makassar, siri 'dan pacce selalu mengingatkannya sebagai anak orang Bugis yang diasingkan dan rakyatnya menderita. Awal tahun 1660 ia merasa penderitaan semakin parah karena harus menyaksikan 10.000 tua-muda diseret dari Bone ke Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin melalui Karaeng Karunrung dan Bupati Bone, Tobala. Mereka dijadikan buruh paksa untuk menggali kanal-kanal di sepanjang garis pantai Makassar agar ada pemisahan antara Kerajaan Goa dan Benteng Panakkukang yang dikuasai VOC.
Karena banyak yang sakit dan mengungsi, semua bangsawan Bone dan Soppeng diperintahkan meninggalkan istana, untuk bekerja bersama rakyatnya. Hal ini melipatgandakan pelecehan siri 'yang diderita masyarakat Bone dan Soppeng karena tuannya dipaksa melakukan kerja kasar yang tidak layak. Pelecehan siri 'merupakan penderitaan kolektif bagi masyarakat Bone dan Soppeng serta mengental perpecahan di antara mereka. Resistensi dirancang.
Arung Palakka adalah salah satu perancangnya, namun perlawanan itu dipatahkan oleh kekuatan besar Gowa. Dia ditekan. Pada akhir tahun 1660 ia meninggalkan Sulawesi Selatan bersama para pengikutnya menuju Batavia dengan bantuan VOC, namun di dalam hatinya terpatri sumpah bahwa ia tidak akan pernah berhenti mencari jalan untuk kembali, menghitung, dan membebaskan negeri Bone. .
Setelah menunggu lima tahun, keinginannya menjadi kenyataan. VOC yang kagum dengan kekuatan tempur pengikut Arung Palakka yang disebut Toangke ("orang Angke", diambil dari Sungai Angke yang mengalir melalui desa Bugis di Batavia) sambil membantu memadamkan pemberontak Minangkabau, mengajaknya berperang melawan Gowa yang dianggap mengganggu kepentingan ekonomi VOC.
Andaya menyediakan ruang yang cukup untuk menceritakan Perang Makassar. Salah satu yang menarik adalah pemunculan psikologi Arung Palakka dan Cornelis Speelman yang merupakan aktor utama yang dipilih oleh VOC untuk memimpin ekspedisi ke Kerajaan Gowa. Keduanya menderita karena apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan sehingga rela mengorbankan apa saja untuk memulihkan nama mereka. Speelman percaya hanya kemenangan yang dapat membersihkan namanya dari pemecatan tidak hormat karena perdagangan gelapnya sebagai gubernur VOC di Coromandel pada tahun 1665. Adapun Arung Palakka, kemenangan akan membebaskannya dari beban berat bahwa siri'inya mati.
Hanya dengan memulihkan siri 'dan rakyatnya dia bisa menunjukkan wajah di Sulawesi Selatan. Ia percaya bahwa lebih baik mati untuk membela siri '(mate ri siri'na) daripada hidup tanpa siri' (mate siri '). Mati untuk memulihkan siri 'berarti "mati dengan mandi gula dan santan" (mate ri gollai, mat ri santannge). Situasi psikologis inilah yang mendorong keduanya untuk "menafsirkan ulang" tatanan VOC.
Hal menarik lainnya adalah studi Anda tentang dampak perang terhadap masyarakat Makassar. Melalui cerita rakyat Bugis, Sinrili'na Kappala 'Tallumbatua, ia menunjukkan Arung Palakka dan Perang Makassar yang dimaknai oleh masyarakat pedesaan Makassar dan Bugis sebagai kemenangan rakyat dan keunggulan nilai-nilai mereka berdasarkan kebiasaan dan praktek (yang ada) yang sudah sangat tua dalam komunitas, yaitu siri ', pacce, dan sare.
Jawaban atas masalah ini, menurut Anda, kurang tepat untuk dicari dalam kerangka persaingan ekonomi di bagian barat laut Nusantara, antara Kerajaan Gowa dan VOC yang berpuncak pada Perang Makassar tahun 1666-1669, seperti cendekiawan lokal dan asing percaya. Alasan utama Arung Palakka bukanlah politik-ekonomi, melainkan pangadereng yang meliputi siri '' (harga diri atau kehormatan dan rasa malu), pacce (rasa sakit dan duka atas penderitaan sesama), dan sare (keyakinan bahwa seseorang dapat meningkatkan atau mempermalukan keberuntungan seseorang dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).
Tanpa memahami ketiga ciri budaya yang sangat berperan penting dalam sejarah Sulawesi Selatan saat itu, akan mendung selamanya menilai Arung Palakka. Bagaimanapun, Andaya percaya diktum sejarawan JC van Leur bahwa masa lalu tidak ditulis untuk dinilai dari nilai masa kini, dan karena itu siri ', pacce, dan sare lebih baik dan hanya bahan yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi peristiwa-peristiwa penting itu. abad. daripada standar saat ini. Maka dari itu ia masuk dan memberikan kontribusi penting terhadap polemik yang masih berkembang di masyarakat Sulawesi Selatan tentang Arung Palakka sebagai sosok yang benar, pahlawan sejati, bukan pengkhianat atau penindas.
Hal ini sangat berbeda dengan tulisan sejarawan Barat maupun sejarawan Indonesia yang hanya mengandalkan sumber-sumber Kerajaan Makassar dan / atau dokumen VOC. Mereka cenderung menggambarkan kepahitan dan pesimisme di kalangan raja dan bangsawan Makassar sebagai cerminan dari perasaan seluruh masyarakat Makassar. Jadi, masyarakat Sulawesi Selatan harus bisa merendahkan emosi dan lebih rasional dalam membahas implikasi Perang Makassar.
Setelah Perang Makassar, Arung Palakka memahami betul bahwa VOC telah menjadi kekuatan "dalam", tetapi bukan "milik", Sulawesi Selatan. Perbedaan ini diakui dan dimanipulasi untuk menjadikannya sebagai salah satu penguasa tertinggi paling sukses dalam sejarah Sulawesi Selatan. Ia merintis jalan menuju ke sana tidak hanya dengan kesadaran bahwa ia tidak akan berbalik melawan VOC, yang telah memulihkan kehidupannya dan rakyatnya, tetapi juga dengan selalu membuktikan kesetiaannya. Ia rela meninggalkan negaranya pada Mei 1678 untuk berjuang membantu VOC menyelesaikan masalah pengungsi Makassar yang dipimpin oleh Karaeng Galesong yang membantu perlawanan Trunojoyo di Jawa.
Terakhir, Andaya menyimpulkan bahwa Arung Palakka adalah sosok yang dianugerahi visi dan kepiawaian politik yang kuat sehingga mampu menggunakan pengaruhnya secara efektif terhadap negara setempat, bahkan membuat pemerintah pusat VOC di Batavia tergantung dan rela mengabaikan suara. wakilnya di Fort Rotterdam untuk memborgol Arung Palakka untuk memaksa mereka semua. berbagi impiannya tentang Sulawesi Selatan yang bersatu.
Impian Arung Palakka yang dalam 30 tahun pemerintahannya berhasil terwujud, namun di saat yang sama membuat banyak pangeran dan pengikutnya tidak setuju karena politik kotornya. Hal ini mengakibatkan pangeran dan pengikutnya berlarian dan mencari rumah di seberang tanah, sehingga mewarnai sejarah daerah tujuan tersebut. Inilah yang menurut Anda merupakan warisan Arung Palakka, tidak hanya untuk Sulawesi Selatan tetapi juga untuk nusantara, selain dari kepribadiannya sebagai pemimpin yang sadar, memahami, dan berpegang pada tradisi yang tertuang dalam amanat leluhur tertulis dan tidak tertulis.